Pagi hari, fenomena tim KKN desa Sukamulya
bangun lebih awal terulang kembali. Hal tersebut kali ini dikarenakan kami
harus sudah berada bersama dengan ibu bidan dan kadernya di posyandu pada pukul
8. Pagi itu kami dijawadwalkan untuk belajar dan membantu kegiatan penimbangan dan
imunisasi di kampung Sukajaya dan Sukamaju. Hari itu adalah kegiatan posyandu
terakhir di bulan Juli untuk desa Sukamulya.
Saturday, July 14, 2012
Friday, July 13, 2012
KKN hari ke-8; Minggon
Tak seperti biasanya, pagi ini semua anggota
tim bangun dan mandi lebih awal. Fenomena ini terjadi karena hari ini adalah
hari dimana tim KKN UPI dan IPB secara resmi akan memperkenalkan diri dan
menyampaikan program yang telah direncanakan di depan semua aparat dan tokoh
desa Sukamulya dari sampai tokoh ibu PKK, bapak RT/RW, petani, hingga kepala
desa, dalam sebuah rapat yang diadakan di awal dan akhir bulan, biasa disebut ‘minggon’. Terlambat
berarti nilai minus untuk kriteria first
impression.
Tidak semua anggota tim beranjak dari tempat
tidur pagi itu, Erni, salah satu teman kami dari pendidikan bahasa Jepang tidak
beranjak dari tempat tidur, bukan karena malas, tetapi karena kondisi tubuhnya
yang tidak fit. Sesegera mungkin anggota keluarga diminta untuk menjemput dan
memberikan treatment yang lebih baik
dari apa yang dapat kami berikan di tempat KKN. Odaijini Erni, semoga kamu muntaber bukan karena hukuman memakai
helm.
Thursday, July 12, 2012
KKN Hari ke-7; Siklus Kebaikan
Kesunyian pagi hari dipecahkan oleh tabuhan
genderang doger monyet yang menggelar pertunjukan di depan halaman rumah salah
satu warga desa Sukamulya. Pertunjukan jalanan yang sering saya jumpai di bawah
flyover Pasteur ini entah kenapa terasa berbeda, mungkin karena pertunjukan
pagi itu tidak mengikutsertakan tabuhan knalpot dan klakson kendaraan bermotor
yang biasanya menjadi instrumen tambahan pertunjukan sejenis ini di kota-kota
besar.
Wednesday, July 11, 2012
KKN Hari ke-6; Sawah
Pagi hari, tidak ada yang menarik untuk
diceritakan. Sepertinya saya mulai kekurangan bahan untuk tantangan menulis
satu artikel tiap hari selama 40 hari KKN. Bagaimana tidak, hampir setiap hari
kami bingung mesti melakukan apa karena jadwal kegiatan desa yang seringkali
tidak menguntungkan kami. Misalnya ketika desa sibuk mengurus E-KTP yang
merupakan urusan internal desa, atau karena kebanyakan warga pergi ke sawah
sehingga aktifitas pedesaan sendiri cenderung sepi, atau karena kami merasa lebih
nyaman diam di rumah dan tidak memiliki ide kreatif untuk melakukan suatu hal
yang produktif. Apa pun itu, pagi ke enam KKN kami habiskan dengan banyak diam
di rumah.
10 Juli 2012. Merasa bosan, saya beserta Wawan
dan Puguh memilih berjalan-jalan menikmati daerah pesawahan desa Sukamulya.
Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, kecamatan Pagaden masuk ke
kawasan Subang tengah yang sebagian daerahnya merupakan daerah pesawahan. Desa
Sukamulya sendiri memiliki daerah pesawahan yang luas, tak aneh mata
pencaharian masyarakat disini kebanyakan adalah petani. Hamparan sawah desa
Sukamulya sangat indah. Pemandangan sawah hijau membentang luas disertai mulai
redupnya matahari sejauh mata memandang. Wawan sang ketua tim pun menyatakan
bahwa tempat ini sangat lah cocok untuk dijadikan tempat berpacaran (lol).
Tuesday, July 10, 2012
KKN Hari ke-5; Meeting
Pagi hari dimulai dengan mengerjakan tugas
piket mingguan yang telah dijadwalkan. Senin kebetulan adalah jadwal piket
saya. Tidak ada sesuatu yang menarik untuk diceritakan mengenai piket. Hal yang
mungkin bisa di highlight adalah
makna sampah plastik bagi mak Eras, tetangga samping rumah yang masih harus
menggunakan sandal di dalam rumah agar kakinya tidak terkotori lantai tanah tak
berkeramik. Mungkin bagi sebagian besar dari kita kemasan teh gelas hanyalah
sampah. Namun, bagi nenek yang tinggal dengan seorang anak dan dua cucu itu, kumpulan
sampah tersebut adalah sesuatu yang dapat membuat dapur mereka terus mengepul.
Sampah plastik tersebut dia kumpulkan dan tukarkan dengan minyak goreng.
Mungkin hal seperti ini sudah biasa kita lihat di acara-acara reality show yang disiarkan stasiun TV,
namun mengetahui dan melihat secara langsung ‘reality show’ ini terasa berbeda bagi saya, hal yang secara pribadi
dapat meningkatkan rasa syukur dan penghargaan nilai suatu benda.
Subscribe to:
Posts (Atom)